Direvitalisasi Tahun Depan, Pasar Godean Bakal Berkonsep Terbuka

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pasar Godean Sleman akan direvitalisasi, tahun depan. Agar didapat desain skematik pasar berstandar SNI namun tetap memiliki roh ketradisionalan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman bekerja sama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY mengadakan sayembara desain Pasar Godean.

Penjurian telah dilakukan. Juara I sayembara adalah peserta dengan nomor PGD 128. Kemudian ada Juara II, III dan Juara Harapan I ada dua pemenang. “Total ada 5 pemenang dalam sayembara ini,” terang Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih kepada wartawan usai penjurian babak final di Kantor Dinas Kominfo Sleman. Proses penjurian dilakukan oleh 5 juri profesional dengan 1 juri kehormatan yaitu Bupati Sleman Sri Purnomo.

Menurut Mae, peserta PGD 128 mendapat nilai tertinggi dan memenuhi semua persyaratan teknis meliputi keselamatan, kenyamanan dan keamanan. Selain itu konsep yang ditawarkan sesuai dengan keinginan semua pihak, termasuk aspirasi para pedagang. “Desain yang akan direalisasikan tentu yang Juara I, mereka akan kita libatkan dalam perancangan Detail Engineering Design (DED) yang kemudian akan diwujudkan menjadi bangunan Pasar Godean,” ujarnya, baru-baru ini.

Ketua Juri Jatmika Adi Suryabrata mengatakan, dari desain ini, nantinya Pasar Godean tidak hanya akan menjadi baru dan lebih bersih, tapi juga akan memiliki nilai tambah yaitu akan banyak kegiatan-kegiatan baru, sehingga pasar akan hidup 24 jam. Konsep yang paling menonjol dari desain ini, kata Jatmika yaitu Pasar Godean akan berkonsep terbuka, tidak seperti pasar-pasar biasa yang kios-kiosnya tertutup gedung. “Karena konsepnya terbuka, orang yang jalan di luar bisa melihat bagian dalam pasar,” katanya.

Juri lainnya, Eko Agus Prawoto menambahkan, kesan sebagai pasar modern dengan tetap menjaga roh ketradisionalan sangat terasa dalam desain ini. Pasar Godean akan memiliki urban space untuk berbagai kegiatan, alun-alun kecil yang bisa dipakai untuk perform, pentas musik atau pameran. Kemudian ada pendopo yang bisa dipakai acara pertemuan/rapat asosiasi pedagang. Untuk atap berbenduk joglo yang sudah dimodifikasi. “Desainnya tidak konservatif, ada referensi nilai klasik Jawa yang diinterpretasikan di situ,” katanya. (Dev)

Sumber : KR Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *