PHK hingga Gelombang Tutup Toko Hantui Bisnis Ritel

Jakarta – Industri ritel menjadi salah satu lini bisnis yang lesu dihantam virus Corona. Kerugian besar menghantui sektor ritel di tengah lesunya kondisi bisnis ini.

Ketum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan bila kondisi ini terus berlanjut, gelombang tutup toko akan mengancam sektor ritel.

Bahkan ancaman itu sudah mulai berjalan sekarang. Dia mengungkapkan sudah beberapa toko ritel besar ditutup, perusahaan menutup toko demi menekan biaya operasional.

“Gelombang tutup toko ya. Itu sudah terjadi sekarang juga, lihat aja itu Ramayana, Hypermart, tutup toko, jadi itu kan karena memang secara perhitungan mereka mau mengurangi biaya. Ditutup lah toko-toko yang kinerjanya kurang baik dan merugi,” ungkap Budihardjo kepada detikcom, Minggu (25/10/2020).

Bila banyak toko yang ditutup, otomatis kemungkinan PHK akan terjadi. Dia sendiri tidak memiliki data sejauh ini ada berapa orang yang di PHK, hanya saja sejak awal pandemi sudah ada puluhan ribu dirumahkan.

“Nah ini yang merugi makin banyak kan, maka makin banyak toko yang tutup, makin banyak yang berpotensi di-PHK. Kalau data pasti ini nggak ada, sejauh ini saja sudah ada puluhan ribu dirumahkan,” kata Budihardjo.

Di sisi lain, Budihardjo pernah mengatakan sekitar 1,5 juta pegawai mal-mal di Indonesia terancam kehilangan pendapatannya. Mulai dari dirumahkan, hingga dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Jumlah tenaga kerja di kami ada sekitar 3 juta. Yang terdampak itu 50%, itu adalah sektor yang ada di pusat belanja atau mal. Nah di mal itu kalau 50% itu terdampak, sudah pasti angkanya sebesar itu yang akan berkurang pendapatannya, maupun dirumahkan. Jadi di 1,5 juta pegawai itu akan terjadi, dan itu belum termasuk keluarganya,” kata Budi dalam webinar bertajuk Dalam Keterpurukan Penyewa dan Pusat Perbelanjaan Menghadapi Resesi Ekonomi, Senin (28/9/2020).

Budihardjo pun mengatakan industri ritel bakal rugi ratusan triliun rupiah, kok bisa?

Budihardjo mengatakan saat ini kerugian memang menghantui para peritel. Salah satunya karena pembatasan operasional yang masih dilakukan.

“Jadi begini, kita kan terdampak dari pelarangan-pelarangan dan pembatasan nih. Kalau satu bisnis logikanya dibatasi 50% kapasitasnya, pendapatannya ya jelas akan drop. Banyak bahkan omzetnya di bawah 50% dari waktu normal, restoran cuma 20% omzetnya, toko fesyen cuma 30%,” kata Budihardjo.

Bahkan dia mengungkapkan kondisi seperti ini belum akan mengalami pemulihan hingga akhir tahun. Menurutnya pun kondisi ini bisa terjadi hingga tahun depan.

“Sejak bulan Maret ini belum ada pemulihan. Ritel kita shocked kena pandemi dan belum bisa gambaran pemulihan tahun ini, bahkan bisa berlanjut tahun depan,” kata Budihardjo.

Bila bicara kerugian secara umum, menurutnya industri ritel bisa rugi hingga Rp 250 triliun tahun ini.

“Kalau semua ritel ya, itu bisa kira-kira Rp 400-500 triliun pendapatannya, kalau dropnya 50%, logikanya karena pembatasan, ya kerugiannya bisa Rp 200-250 triliun lebih kerugiannya,” papar Budihardjo.

Di sisi lain, peneliti ekonomi Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan kerugian yang dialami sektor ritel terjadi karena kurangnya konsumsi masyarakat. Pasalnya, kelas menengah dan atas menahan uangnya untuk berbelanja.

Padahal dua kelas tersebut menguasai 83% total pengeluaran belanja secara nasional. Saat ini kelompok tersebut memilih menahan uangnya di tabungan daripada berbelanja.

“Ini terjadi karena kelas menengah dan atas yang menguasai 83% total pengeluaran secara nasional menunda belanja. Mereka lebih memilih saving atau menabung di bank, upaya yang rasional dari kelompok menengah atas, karena resiko berbelanja di keramaian misalnya bisa tertular virus COVID-19,” kata Bhima kepada detikcom.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *