Kalau Portofolio Saham Sudah Anjlok, Harus Gimana?

Jakarta – Begitu banyak investor pemula yang mengeluh portofolio sahamnya merah alias anjlok. Minimnya pengetahuan akan berinvestasi saham membuat para investor pemula kebingungan harus mengambil langkah apa.

Menurut Perencana Keuangan Senior Aidil Akbar Madjid, jika seseorang mengalami penurunan nilai portofolio yang ditujukan untuk investasi jangka panjang, mengatasinya justru dengan membeli saham itu lagi, atau melakukan metode dollar cost averaging (DCA). Dengan cara itu, maka total modal yang dikeluarkan untuk membeli saham akan berkurang, dan itu akan terlihat ketika mengambil keuntungan atau taking profit di masa depan.

“Kalau kita sebagai investor, maka senjatanya adalah kita masuk lagi dan dikalikan 2. Misalnya menunggu Antam diskon lagi, sebenarnya kalau masih ada peluru, maka di saat itulah dia masuk lagi untuk menurunkan cost yang tadi di atas, kerugian mungkin 30-40%, kalau dia masuk lagi di bawah dengan nominal yang sama akan terdiskon kerugiannya 50%. Jadi dari 30-40%, menjadi hanya 15-20%, itu teorinya, disebut DCA,” jelas Aidil dalam bincang d’Rooftalk edisi Waspada Investasi Saham Pompom, Rabu (27/1/2021).

Namun, untuk melakukan DCA maka investor tersebut masih harus menyiapkan modal dalam rekening efeknya. Oleh sebab itu, Aidil mengingatkan agar saldo di rekening efek tak dihabiskan semua. Hal ini agar bisa memiliki banyak portofolio saham.

“Makanya tadi ketika masuk ke saham jangan semua pelurunya digunakan. Itu kalau bicara investasi jangka panjang, tapi itu hanya berlaku untuk saham-saham yang masih punya potensi, perusahaan besar, bagus. Kalau dia lagi merah, kita sebenarnya nggak perlu takut. Malah kalau merah, saya pasti beli lagi di bawah, kalau nggak sempat cut loss,” papar dia.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berperan sebagai trader di bursa, maka caranya adalah melakukan cut loss apabila tak lagi melihat potensi di saham tersebut.

“Ketika saham tersebut tidak ada potensi lagi, atau nyangkut mendekati Rp 50/lembar, cut loss itu kadang-kadang pil pahit yang harus ditelan. Jadi membersihkan rapot lah, supaya jangan merah itu kebawa-bawa. Jadi jangan kerugian 3-4 tahun lalu kebawa terus sampai sekarang, jadi malah merusak konsentrasi kita, merusak kita mau investasi saham ke depan. Jadi anggap saja itu uang sekolah,” kata dia.

Aidil mengatakan, jika portofolio sebuah saham yang dimiliki turun 5%, maka orang tersebut harus memperoleh keuntungan 5% atau lebih, dan seterusnya. Namun, tak berarti harus menunggu saham itu harus naik lagi.

“Jadi di antara semua portofolio yang merah, mana nih yang kira-kira sudah tidak ada prospek sama sekali, yang nyangkut terutama Rp 50/lembar itu masih bisa ke luar dari pasar negosiasi di luar bursa. Jadi kalau ada yang negosiasi beli di Rp 35-40/lembar, di luar bursa ya itu, ya ambil saja, karena sudah tak ada potensi dia kembali membaik. Toh itu hanya sebagian dari portofolio teman-teman,” terangnya.

“Kalau sudah 50% loss, maka balikin uangnya harus di atas 50%. Tapi belum tentu balikinnya di saham yang sama. Jadi bisa jadi cut loss di saham jelek, lalu uangnya masukin saja di saham bagus yang diskon, sehingga mengurangi kerugian. Tapi kembali lagi harus selalu menggunakan uang dingin,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, praktisi pasar modal Ellen May membeberkan, ada beberapa saham yang punya prospek cukup bagus. Pertama, saham dari emiten yang bergerak di industri kelapa sawit.

“Disclaimer ini edukasi bukan perintah beli-jual. Bisa untung, bisa ada risiko juga. Jadi kalau sekarang ini saya lihat sektor CPO (crude palm oil) itu sudah sangat murah, dan saya suka LSIP karena secara fundamental dia utangnya kecil, kemudian kebutuhan akan CPO juga naik, dia perusahaannya sangat efisien, technically murah, valuasi juga oke. Jadi LSIP untuk CPO sangat menarik,” ujarnya.

Kedua, saham-saham dari emiten konstruksi yang terdampak oleh berdirinya Lembaga pengelola dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF) atau Lembaga Pembiayaan Indonesia (LPI).

“Kedua, saya sedang menunggu saham-saham konstruksi yang terdampak SWF, seperti WSKT ini kita sudah masuk tadi untuk investing juga, tapi kalau dikasih diskon lagi kita mau,” ujar Ellen.

Kemudian, saham di emiten pertambangan. “Kita lagi menunggu diskonnya Antam. Kenapa? Karena Antam ini story pembangunan pabrik baterai di Indonesia sangat bagus. Masalahnya, secara valuasi dia mahal sekali, dan teknikal juga agak kemahalam. Jadi kita menunggu diskonnya dia,” tutur Ellen.

Terakhir, saham di emiten sektor ritel. Namun, untuk membeli saham ini ia sarankan jauh-jauh hari, sebelum perayaan Hari Raya Idul Fitri.

“Lalu ritel, sekarang murah banget. Nanti kalau vaksin sudah diedarkan, dan berjalan dengan baik Ramayana dan MAPI itu bakalan naik kencang, dan jangan belinya pas Lebaran, itu profit taking. Masuknya sekarang. Makanya investor harus sabar,” tutup Ellen.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *