Kondisi Tiga Bank BUMN di Tengah Pandemi

Jakarta – Tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI) sudah merilis kinerja tahunan periode 2020. Perolehan laba ketiga bank ini tercatat mengalami penurunan.

Sebabnya bank berupaya menambah pencadangan kredit hingga akhirnya laba menyusut. Pendapatan bunga juga menurun hingga mempengaruhi kinerja.

Namun bank masih mencatatkan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dengan biaya dana yang lebih efisien dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Bank Mandiri

Bank berkode emiten BMRI ini mencatatkan laba bersih Rp 17,1 triliun atau menyusut 37,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 27,48 triliun.

Penyaluran kredit pada 2020 sebesar Rp 892,8 triliun atau minus 1,61%. Kemudian dana pihak ketiga (DPK) Rp 871,2 triliun atau tumbuh 7,08%.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan non performing loan (NPL) secara gross 3,09%. “Aset Bank Mandiri tercatat Rp 1.429,3 triliun atau tumbuh 8,43%,” kata Sigit dalam konferensi pers, Kamis (28/1/2021).

Coverage Ratio tercatat 229,1% naik 84,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 144,25%.

Net Interest Margin (NIM) tercatat 4,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,56%.

Bank Rakyat Indonesia

BRI membukukan laba bersih Rp 18,66 triliun di tahun 2020. Pada tahun 2019, BRI mencatat laba sebesar Rp 34,41 triliun, dengan demikian laba BRI turun Rp 15,75 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, laba mengalami penurunan karena perusahaan melakukan pencadangan yang cukup besar.

“Laba BRI Rp 18,66 triliun memang menurun dibanding tahun lalu karena mencadangkan cukup besar,” katanya dalam teleconference, Jumat (29/1/2021).

Dia mengatakan, BRI menyalurkan kredit sebesar Rp 938,37%. Kredit tersebut tumbuh sebesar 3,89% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 903,20 triliun.

Kemudian, BRI menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.121,10 triliun. DPK mengalami pertumbuhan 9,78% dibanding periode sama tahun lalu Rp 1.021,0 triliun.

“DPK BRI mencapai Rp 1.121,1 triliun atau naik sebesar 9,78%,” katanya.

Bank Negara Indonesia

BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun sepanjang 2020. Angka ini terkontraksi 78,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati mengungkapkan pandemi COVID-19 menyebabkan banyak tantangan untuk dunia usaha di tanah air hampir sepanjang 2020.

Dia mengungkapkan di tengah kondisi perekonomian yang menantang, perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income sebesar Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020.

Adi menjelaskan bekal PPOP tersebut menambah ruang bagi BNI untuk memupuk pencadangan yang memadai dalam menghadapi tantangan perekonomian di masa mendatang dan juga memberikan kekuatan untuk meminimalisir volatilitas keuntungan perseroan.

“Di mana pada tahun 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun disertai dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4% lebih besar dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 133,5%,” kata dia dalam konferensi pers, Jumat (29/1/2021).

Adi mengungkapkan BNI terus beradaptasi di tengah masa pemulihan dari pandemi COVID-19 dan terus berupaya menumbuhkan bisnis, terutama pada triwulan terakhir tahun 2020, dengan fokus pada penguatan fundamental perseroan.

Dia menyebutkan kredit yang disalurkan pada 2020 sebesar Rp 586,2 triliun atau tumbuh 5,3% YoY.

“Pada Kuartal IV-2020 perseroan juga melakukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan komposisi aset dan liabilities, sehingga pengelolaan dana perseroan dapat lebih efektif,” jelas dia.

Pada tahun 2020, perseroan mampu menjaga NIM di level 4,5% melalui strategi manajemen biaya dana yang efektif. BNI mencatatkan biaya dana (cost of fund) yang terus mengalami perbaikan di setiap kuartalnya, terutama pada Kuartal IV – 2020 yang berada pada level 2,0% atau membaik 60 basis poin dari kuartal sebelumnya, sehingga cost of fund pada akhir 2020 turun menjadi 2,6% dari 3,2% di 2019.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *