Daftar Proyek yang Bakal Digarap Lewat LPI

Jakarta – Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dengan nama Indonesia Investment Authority (INA) akan menarik investasi yang digunakan untuk menggarap proyek dalam negeri. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pihaknya memiliki daftar aset yang bisa dikerjasamakan melalui INA.

“Kami memiliki peta jalan untuk tiga hingga lima tahun ke depan tentang daftar aset, jenis aset yang ingin kami transfer ke INA dan bekerja sama dengan investor,” katanya dalam acara Mandiri Investment Forum, Rabu (3/2/2021).

Dia mengatakan, di tahun-tahun awal pihaknya bersama LPI akan fokus pada aset infrastruktur. Aset tersebut seperti jalan tol, bandara hingga pelabuhan.

“Dalam dua tahun pertama, kami fokus pada aset infrastruktur, seperti yang saya sebutkan tadi dan juga dalam presentasi seperti jalan tol, bandara dan pelabuhan,” katanya.

Pihaknya juga membuka ruang untuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk yang baru saja dibentuk. Dia bilang, bank ini membutuhkan modal ke depannya.

“Seperti diketahui, kami baru saja menggabungkan Bank Syariah Indonesia dan mulai beroperasi kemarin, bank ini akan membutuhkan peningkatan modal yang signifikan dalam jangka menengah. Dan kami ingin melakukan rights issue dan tentunya jika ada match of interest kami akan sangat terbuka bekerja sama dengan investor mulai investor ingin mengambil block seed di BSI kedepannya,” paparnya.

Dia juga menuturkan, pihaknya juga membuka ruang untuk sektor teknologi. Dia mengatakan, saat ini Telkom sedang melakukan restrukturisasi. Telkom berencana melepas anak usaha atau spin off.

“Saat ini Telkom sedang melakukan restrukturisasi korporasi, di mana kami ingin melakukan spin off beberapa perusahaan infrastruktur telekomunikasi menjadi beberapa emiten yang berbeda. Ambil contoh perusahaan tower ke depannya bisa juga infra co yang terdiri dari fiber dan juga 5G,” ujarnya.

“Jadi ini juga bisa menjadi peluang yang baik, jangka menengah hubungannya dengan INA dan Telkom, di sisi lain dia juga mengembangkan infrastruktur digital dan juga bisnis konsumer melalui Telkomsel dan Telkom,” sambungnya.

LPI Tarik Investasi Rp 280 T

Kartika mengatakan, pemerintah menargetkan LPI menarik investasi sampai US$ 20 miliar atau setara Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000). Ia yakin, INA dapat merealisasikan dalam 1 hingga 2 tahun ke depan. Namun, ia mengatakan, terpenting ialah aset yang dibiayai oleh investasi tersebut.

“Saya pikir untuk mendapatkan komitmen sekitar US$ 20 miliar adalah jumlah yang kami targetkan sebagai komitmen di tingkat Master Fund. Saya pikir itu bisa dicapai. Satu hingga dua tahun ke depan, kami mendapatkan anggaran lebih dari US$ 20 miliar. Saya pikir, seperti yang saya sebutkan, jauh lebih penting untuk benar-benar mencapai kesepakatan pada tingkat transaksional,” katanya.

Pemerintah sendiri menawarkan aset investasi sekitar US$ 5 hingga US$ 6 miliar atau sekitar Rp 70 triliun hingga Rp 84 triliun. Pihaknya mengaku, belum tahu berapa proyek yang akan lolos karena memerlukan sejumlah pembahasan.

“Kita belum tahu berapa banyak yang lolos, aset US $ 6 miliar bisa ditutup, tentunya akan banyak pembahasan mengenai due diligence, valuasi, penataan, dan level aset,” terangnya.

Dia berharap aset itu berhasil ditawarkan. Jika berhasil, maka INA bisa menghimpun dana lebih besar lagi ke depannya.

“Saya pikir jika kita dapat membuat kesepakatan yang bagus di katakanlah empat atau lima transaksi ke depan. Saya kira ada peluang besar bahwa kita bisa menarik pool of fund yang lebih besar di masa depan, dan karenanya kita juga bisa menaruh aset yang lebih sehat untuk ditransfer ke INA,” terangnya.

Pada acara yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, beberapa investor sudah menyatakan komitmennya untuk menyetorkan dana kepada LPI yang merupakan lembaga dana abadi Indonesia tersebut.

“Beberapa investor sudah menunjukkan minatnya dengan mengirimkan surat, dan bersedia berkomitmen sekitar US$ 2 miliar, sekitar US$ 4 miliar, dan juga dari yang lainnya dari CDPQ dari Kanada, atau dari Belanda,” kata dia.

Pada dokumen yang dipaparkan Airlangga terdapat rincian nilai komitmen dari sejumlah pemodal asing ke LPI. Melalui Master Fund ada US DFC (Letter of Interest hingga US$ 2 miliar), JBIC (MoM dengan potensi hingga US$ 4 miliar) and ADIA (pending formation).

Lalu melalui Thematic Fund ada CDPQ Kanada (Letter of Interest komitmen informal hingga US$ 2 miliar), APG Belanda (Letter of Interest dengan potensi hingga US$ 1,5 miliar), GIC Singapore (possibly following discussion), dan Macquarie (menawarkan sebagai pengelola dana, kontribusi potensial US$ 300 juta).

Sementara itu, pemerintah telah berkomitmen menempatkan US$ 5 miliar sebagai modal awal LPI. Targetnya adalah US$ 20 miliar.

“Untuk kuartal pertama di tahun ini dan itu sekitar US$ 5 miliar,” tambah Airlangga.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *