BUMN Karya Berdarah-darah, Apa Penyebabnya?

Jakarta – Kinerja keuangan BUMN infrastruktur tengah menjadi sorotan, termasuk oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Laporan keuangan keuangan mereka semakin memburuk.

Beberapa BUMN infrastruktur yang sudah melaporkan kinerja keuangan di 2020 mengalami penurunan laba bersih yang sangat tajam. Bahkan Waskita Karya mengalami kerugian hingga Rp 7,3 triliun, sedangkan laba Wijaya Karya turun 91% dan PTPP turun 84%.

Menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira penyebab keuangan BUMN karya semakin terpuruk adalah penugasan proyek pemerintah dan asumsi awal yang tidak sesuai.

“Penugasan itu sangat berat apalagi salah asumsi karena selalu pada saat uji kelayakan modelnya optimistis. Ekonomi tumbuh 7-8% kemudian akan terjadi kenaikan permintaan industri dan daya beli masyarakat,” tuturnya kepada detikcom, Minggu (4/4/2021).

Padahal, lanjut Bhima, sebelum pandemi saja inflasi rendah karena permintaan tertekan. Lalu ekonomi hanya tumbuh 5% tidak sesuai proyeksi awal. Sehingga tol yang dibangun memiliki utilisasi yang rendah karena aktivitas logistik yang juga rendah.

“Pemerintah masih saja optimis dan korbankan BUMN. Akibatnya utilitasi jalan tol dan proyek lain rendah. Bayangkan jalan tol dibangun tapi angkutan logistik masih memilih jalan arteri, bandara sepi penumpang. Pasti bleeding BUMN-nya,” tambahnya.

Sementara menurut Dahlan penyebab merosotnya kinerja keuangan BUMN karya tidak lain karena pekerjaaan infrastruktur yang begitu besar beberapa tahun terakhir.

“Sebagian BUMN infrastruktur ngeri dengan besarnya modal yang harsu disiapkan. Mereka memilih jadi kontraktor saja. Tapi ada BUMN yang ambisius sekali, memiliki tol itu sekaligus mengerjakannya. Uang bisa dicari kata mereka,” tulis Dahlan dalam laman pribadinya Disway.

Sekuat-kuatnya perusahaan bahkan BUMN sekalipun, tentu membutuhkan sumber dana dari pihak ketiga untuk membangun infrastruktur. Sementara bank yang juga menjadi sumber pendanaan ada batasan peraturan dalam pemberian kredit kepada satu grup perusahaan.

Ketika perusahaan sudah tidak bisa pinjam ke bank, maka perusahaan bergantung pada penerbitan surat utang seperti obligasi. Namun tentu investor cermat melihat perusahaan yang menerbitkan obligasi yang memang masih memiliki kemampuan pinjam ke bank ataupun yang sudah kepepet. Sehingga pemilik dana obligasi bisa menetapkan bunga yang tinggi.

Sementara obligasi ini memiliki masa waktu jatuh tempo. Jika perusahaan tak mampu membayar, maka pilihan lainnya adalah kembali menerbitkan obligasi baru.

“Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan emreka sebagian besar akibaat kemakan bunga tinggi,” kata Dahlan.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *