Pemda DIY Optimalkan Proyek Strategis dan Investasi

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY terus berupaya mengoptimalkan proyek strategis dan investasi dalam rangka memulihkan perekonomian DIY di masa pandemi Covid-19. Selain itu, melibatkan sektor swasta menciptakan peluang usaha yang sesuai karakteristik wilayah DIY, mengoptimalkan peluang investasi, diseminasi informasi terkait peluang usaha, memperhatikan daya dukung lingkungan serta menyerap tenaga kerja lokal DIY.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Beny Suharsono mengatakan dalam rangka mengoptimalkan proyek strategis dan investasi dalam rangka memulihkan perekonomian DIY diharapkan dapat dipastikan pelaksanaan sesuai tata kala dan menaati ketentuan perizinan. Pemda DIY juga harus melibatkan sektor swasta menciptakan peluang usaha yang sesuai karakteristik wilayah DIY, mengoptimalkan peluang investasi yang Ready to Offer misal melalui kemudahan perizinan, diseminasi informasi, memperhatikan daya dukung lingkungan serta menyerap tenaga kerja lokal DIY.

“Perekonomian DIY triwulan I 2021 terhadap triwulan I-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 6,14 persen (yoy) berlawanan arah dibanding periode yang sama di 2020, kontraksi 0,31 persen (- 0,31). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I 2021 mencapai Rp 37,23 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 26,94 triliun,” paparnya di Komplek Kepatihan, Kamis (20/5/2021).

Beny menjelaskan andil terbesar pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan I 2021 (yoy) adalah lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 3,87 persen. Selanjutnya diikuti Konstruksi dan Pertanian yang masing-masing sebesar 1,03 persen dan 1,01 persen. Dari sisi pengeluaran, pembentukan modal tetap bruto memberikan andil terbesar pertumbuhan (yoy).

“Pertanian tumbuh tinggi (qtq) pada sektor pertanian utamanya Tanaman Pangan dan subkategori Perikanan karena bertepatan dengan masa panen raya padi. Empat kabupaten di DIY mengalami surplus untuk masa tanam pertama tahun ini,” tambahnya.

Plt Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPKA) DIY ini menyampaikan secara statistik pertumbuhan investasi di DIY mengalami kontraksi sangat dalam 13,41 persen(yoy). Pada 2020 belum terdapat investasi besar yang lain setelah selesainya Proyek Strategis Nasional (PSN) Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) pada 2019 yang sempat mendorong PDRB DIY tumbuh 6,60 persen (yoy).

Pemerintah melakukan realokasi anggaran sebagai dampak pandemi mempengaruhi realisasi belanja pada APBD yang lebih rendah. Total belanja pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten pada 2020 menurun 5,3 persen (yoy) dibandingkan realisasi 2019.

“Konsumsi Rumah Tangga meningkat pada 2 triwulan terakhir konsumsi secara tahunan masih rendah, tren dalam 2 triwulan terakhir cenderung meningkat. Pemerintah memberi stimulus untuk mendorong konsumsi dan menjaga daya beli rumah tangga miskin/ golongan rendah dan terdampak Covid-19 agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pokok. Kalangan menengah keatas berdaya beli baik, cenderung menahan konsumsi dan mengalihkan dalam bentuk simpanan karena simpanan rumah tangga di bank yang terus meningkat 7,4 persen (yoy),” terang Beny.

Dari hasil asesmen Bank Indonesia (BI), Beny mengatakan perbaikan ekonomi diperkirakan masih terus berlanjut sepanjang 2021, walaupun masih terbatas. Perbaikan ekonomi 2021 dilandasi dua prasyarat utama yaitu kesuksesan pengendalian pandemi Covid-19 dan efektivitas belanja fiskal.

“Vaksinasi adalah game changer untuk pemulihan ekonomi. Apabila program vaksinasi sukses sesuai target akan memberikan ekspektasi positif pada masyarakat sehingga berdampak mendorong konsumsi,” pungkasnya. (Ira)

Sumber : KR Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *