Kunjungan Wisatawan Naik, Perkembangan Kasus Tahun Lalu Harus Jadi Pelajaran

YOGYA, KRJOGJA.com – Usai musim libur lebaran, tingkat kunjungan wisatawan ke Kota Yogya cenderung mulai melonjak. Masyarakat diimbau mampu belajar dari perkembangan kasus tahun lalu agar kebangkitan ekonomi berjalan ideal.

Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi mengungkapkan, pada tahun lalu saat puncak kunjungan wisatawan diiringi kenaikan kasus Covid-19 yang tinggi. Terutama periode Agustus, September dan Oktober.

“Kita sebagai manusia harus bisa belajar dari pengalaman. Sekarang saya lihat kunjungan wisatawan cukup tinggi. Jangan sampai angka kasusnya juga meningkat seperti tahun lalu,” jelasnya, Selasa (7/6/2021) malam.

Pada musim lebaran kemarin, kunjungan wisatawan tergolong tinggi. Dua pekan setelahnya atau selama masa inkubasi virus Corona, perkembangan kasus di Kota Yogya pun tercatat landai. Sedangkan dalam sepekan ini, terutama akhir pekan lalu, hampir semua destinasi wisata di Kota Yogya pun dipadati wisatawan.

Heroe berharap, selama dua pekan ke depan juga tidak ada laporan peningkatan atau laju pertambahan kasus yang signifikan. Oleh karena itu, tantangan sekarang saat tingkat kunjungan wisatawan meningkat ialah saling seimbang dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). Warga Kota Yogya yang sudah disiplin prokes diimbau tidak segan mengingatkan wisatawan maupun sebaliknya.

Wisatawan yang sudah terbiasa longgar prokes di daerahnya, diimbau tidak membawa kebiasaan tersebut di Yogya. “Jangan sampai ketidak seimbangan terjadi. Ketika kita sudah disiplin prokes namun wisatawan masih kurang. Ini akan kita edukasi terus melalui kelompok-kelompok yang ada. Terutama ketika musim libur dan akhir pekan,” tandasnya.

Salah satu implementasi hasil pelajaran tahun lalu ialah cakupan prokes yang dijalankan. Jika tahun lalu meliputi 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, pada akhir tahun menjadi 4M dengan tambahan menjauhi kerumunan. Kemudian pada tahun ini pun kembali ditambah menjadi 5M dengan mengurangi mobilitas yang tidak perlu.

Jika aspek 5M tersebut dapat dijalankan dengan disiplin, otomatis pertahanan dari penularan virus akan semakin baik. Begitu juga dari aspek kebangkitan ekonomi. Sepanjang tahun lalu Kota Yogya menggulirkan konsep ‘Dari Jogja Untuk Jogja’. Hal itu sebagai antisipasi agar warga mampu bertahan di tengah sepinya mahasiswa dan wisatawan.

Hasilnya, warga terbukti bisa menghidupkan aktivitas kotanya. Sehingga saat wisawatan mulai berdatangan dan mahasiswa kembali datang, maka bisa menjadi kebangkitan ekonomi. “Dulu sudah bisa hidup. Dan sekarang tentunya akan lebih hidup lagi manakala kebangkitan ini tidak diimbangi dengan lonjakan kasus. Ini tantangan kita semua,” katanya. (Dhi)

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *